Adapankriteria kelulusan dan kenaikan kelas tahun pelajaran 2020/2021 mengacu pada Surat Edaran (SE) Mendikbud no. 1 Tahun 2021. Beberapa poin penting yang terkait kelulusan dan kenaikan kelas dalam surat edaran tersebut adalah:
Pesertadidik dinyatakan lulus memenuhi kriteria dan ketentuan sebagai berikut: Menyelesaikan program pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang dibuktikan dengan rapor tiap semester. Memperoleh nilai sikap atau perilaku minimal baik. Mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.
Peraturanini bukan hanya mengumumkan tentang peniadaan UN saja, tetapi juga memberikan beberapa kriteria kelulusan siswa dan ketentuan kenaikan kelas siswa. Kedua, Permendikbud No 5 tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. SINERGI PAPERS - Simak dengan baik jawaban Latihan Pemahaman modul 3 tentang kenaikan kelas dan kelulusan pada siswa. Adanya jawaban Latihan Pemahaman modul 3 ini diharapkan dapat berguna bagi para Guru yang sedang mengikuti pelatihan. Dengan menyimak dan memahami isi artikel jawaban Latihan Pemahaman modul 3 kenaikan kelas dan kelulusan pada siswa, para Guru dapar menjawab beberapa soal dengan baik. Baca Juga Kunci Jawaban Post Test Modul 3 Topik Kenaikan Kelas dan Kelulusan Pada Murid Selain itu, materi modul 3 tentang kenaikan kelas dan kelulusan pada siswa dapat diimplementasikan dalam pembelajaran. Daripada berlama-lama lagi mending kita simak yuk jawaban Latihan Pemahaman modul 3 tentang kenaikan kelas dan kelulusan pada siswa. Melansir dari berbagai sumber, berikut ini jawaban Latihan Pemahaman modul 3 tentang kenaikan kelas dan kelulusan pada siswa terlengkap 1. Untuk Kurikulum Merdeka, siapakah yang berhak menentukan kelulusan siswa-siswi? A. Kemendikbud RistekB. Dari dinas pendidikanC. Satuan pendidikanD. Dari komite pembelajaranjawaban C 2. Mengenai tindak lanjut yang penting diambil oleh guru pada saat ada murid yang tidak bisa mencapai tujuan pembelajaran yaitu A. Memberi perlakuan khusus seperti strategi belajar atau ada tambahan waktuB. Dengan melaporkan kondisi anak didik pada dinas pendidikanC. Dengan mengubah ruang lingkup capaian pembelajaranD. Mengadakan pengolahan nilai maka murid sesuai tujuan pembelajaranjawaban A 3. Untuk kriteria kenaikan kelas bisa ditentukan oleh A. Kemendikbud RistekB. Keputusan rapat dewan guruC. Dari regulasi Kurikulum MerdekaD. Dari Dinas Pendidikan Kotajawaban B 4. Untuk kenaikan kelas pada 2 fase yang berbeda bisa dikerjakan dengan Terkini
Mekanisme Kenaikan Kelas dan Kelulusan Pada Kurikulum Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk kriteria kenaikan kelas dan kelulusan pada Kurikulum kenaikan kelas dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian peserta didik pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain selama 1 satu tahun menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dapat berdasarkan penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik untuk kenaikan kelas dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan terdiferensiasi sesuai tahap capaian peserta didik menjadi salah satu praktik yang dianjurkan dalam Kurikulum fase dalam Capaian Pembelajaran adalah salah satu alasan mengapa peserta didik dapat terus naik kelas bersama teman- teman sebayanya meskipun dinilai belum sepenuhnya mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam Capaian Pembelajaran di fase sebelumnya atau tujuan pembelajaran yang ditargetkan untuk dicapai pada kelas berikut diharapkan dapat menjelaskan bagaimana proses belajar dalam suatu fase dan lintas fase dapat berjalan seiring dengan kenaikan Format Rapor Laporan Hasil Belajar SD SMP SMA Kurikulum MerdekaIlustrasi 1 Kenaikan kelas dalam fase yang menyusun alur tujuan pembelajaran dalam satu fase secara kolaboratif. Sebagai contoh, guru Kelas III perlu berkolaborasi dengan guru Kelas IV dalam menyepakati alur tujuan pembelajaran yang akan kemudian menyepakati tujuan-tujuan pembelajaran mana yang perlu dicapai di Kelas III, dan tujuan pembelajaran mana yang akan dipelajari di Kelas ada peserta didik yang tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu hingga akhir tahun ajaran di Kelas III, maka guru kelas III perlu menyampaikan hal tersebut kepada guru Kelas IV agar pembelajaran di kelas IV tersebut dapat menyesuaikan dengan kebutuhan peserta itu, pada awal tahun ajaran guru pun dianjurkan untuk melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk mengidentifikasi kesiapan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik tadi dapat terus naik kelas, tidak perlu tinggal kelas di Kelas 2 Kenaikan kelas antara dua fase yang lain adalah kenaikan kelas dari Kelas IV Fase B ke Kelas V Fase C. Apabila terdapat peserta didik yang belum mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam Fase B, hal ini perlu diidentifikasi oleh guru Kelas V sejak awal tahun tentang tahap capaian peserta didik ini perlu dikomunikasikan oleh guru Kelas IV, dan juga diidentifikasi melalui asesmen di awal pembelajaran Kelas peserta didik yang belum menuntaskan Fase B, pendidik dapat mengulang konsep atau materi pelajaran yang belum dikuasai peserta didik sebelum peserta didik tersebut mempelajari materi yang terkandung dalam Capaian Pembelajaran Fase demikian, peserta didik dapat terus naik kelas. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa satuan pendidikan tidak perlu menentukan kriteria dan mekanisme kenaikan kelas. Kenaikan kelas dilaksanakan secara otomatis automatic promotion.Pembelajaran dilaksanakan menggunakan prinsip mastery learning yang sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi atau pembelajaran sesuai tahap capaian teaching at the right level.Setiap peserta didik mempelajari tujuan pembelajaran yang sama dalam setiap pertemuan, namun bagi peserta didik yang tidak dapat mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran perlu ditindaklanjuti dengan memberikan perlakukan khusus agar dapat kata lain, tindakan untuk peserta didik yang berisiko tidak seharusnya menunggu hingga tahun ajaran, tetapi perlu segera diberikan. Apabila terdapat tujuan pembelajaran pada mata pelajaran tertentu yang tidak tercapai sampai saatnya kenaikan kelas, maka pada rapor peserta didik tersebut dituangkan nilai aktual yang dicapai dan dideskripsikan bahwa peserta didik tersebut masih memiliki tujuan pembelajaran yang perlu ditindaklanjuti di kelas dalam proses penentuan peserta didik tidak naik kelas, perlu dilakukan musyawarah dan pertimbangan yang matang, sehingga opsi tidak naik kelas menjadi pilihan paling akhir apabila seluruh pertimbangan dan perlakuan telah penelitian menunjukkan bahwa tinggal kelas tidak memberikan manfaat signifikan untuk peserta didik, bahkan cenderung memberikan dampak buruk terhadap persepsi diri peserta didik Jacobs & Mantiri, 2022; OECD, 2020; Powell, 2010.Di berbagai negara, kebijakan tinggal kelas secara empiris tidak meningkatkan prestasi akademik peserta didik, terutama yang mengalami kesulitan belajar. Dalam survei PISA 2018, skor capaian kognitif peserta didik yang pernah tinggal kelas secara statistik lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah tinggal kelas OECD, 2021.Hal ini menunjukkan bahwa mengulang pelajaran yang sama selama satu tahun tidak membuat peserta didik memiliki kemampuan akademik yang setara dengan teman-temannya, melainkan tetap lebih ini dimungkinkan karena yang dibutuhkan oleh peserta didik tersebut adalah pendekatan atau strategi belajar yang berbeda, bantuan belajar yang lebih intensif, waktu yang sedikit lebih panjang, namun bukan mengulang seluruh pelajaran selama dalam hal terjadi kasus luar biasa, jika terdapat banyak mata pelajaran yang tidak tercapai oleh peserta didik dan/atau terkait isu sikap dan karakter peserta didik, maka satuan pendidikan dapat menetapkan mekanisme untuk menetapkan peserta didik tidak naik demikian, keputusan ini sebaiknya dipertimbangkan dengan sangat hati-hati mengingat dampaknya terhadap kondisi psikologis peserta itu, tinggal kelas juga memberatkan secara ekonomi. Hasil tes PISA 2018 menunjukkan bahwa di berbagai negara, mayoritas siswa yang pernah tidak naik kelas adalah siswa dari keluarga kelas menengah ke bawah OECD, 2020.Ketika mereka tinggal kelas, biaya untuk mengulang satu tahun belajar memberatkan keluarga sehingga mereka semakin rentan putus sekolah. Dengan demikian, kebijakan tidak naik kelas adalah kebijakan yang tidak didik harus mengulang semua mata pelajaran untuk jangka waktu satu tahun penuh, padahal mungkin bukan itu yang menjadi kebutuhan belajar Format Rapor Laporan Hasil Belajar SD SMP SMA Kurikulum MerdekaBerikut ini adalah contoh-contoh isu yang biasanya menjadi faktor pendorong keputusan tidak naik kelas, serta alternatif solusi yang lebih sesuai dengan perkembangan dan kesejahteraan well-being peserta isu Peserta didik mempunyai tujuan pembelajaran yang belum tuntas ada tujuan-tujuan pembelajaran yang hasilnya belum memenuhi pencapaian minimum.Pertimbangan yang bisa diambil sekolah Dapat dipertimbangkan naik di kelas berikutnya dengan pendampingan tambahan untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran yang belum tercapai/ Isu Peserta Didik mempunyai masalah absen/ketidakhadiran yang banyak Banyaknya jumlah ketidakhadiran disepakati oleh Satuan PendidikanPertimbangan yang Bisa diambil Sekolah Dapat dipertimbangkan dengan mengetahui alasan ketidakhadiran. Jika peserta didik tidak hadir karena kondisi keluarga siswa yang membantu orang tua bekerja karena alasan ekonomi atau masalah kesehatan peserta didik, maka dapat dipertimbangkan naik dengan catatan alasan ketidakhadiran karena “malasâ€, meskipun kecil kemungkinan untuk naik kelas; peserta didik tetap dapat dipertimbangkan naik dengan catatan di rapor bagian sikap yang perlu ditindaklanjuti di kelas permasalahan ketidakhadiran harus diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun dengan cara konseling atau behavior treatment lain. Khusus permasalahan ketidakhadiran, wali kelas harus dapat mendeteksi permasalahan ini sedini mungkin, sehingga tidak terjadi penumpukan jumlah ketidakhadiran dari peserta didik di akhir Isu Keterlambatan psikologis, perkembangan, dan/atau kognitifPertimbangan yang Bisa diambil Sekolah Bisa dipertimbangkan untuk naik kelas dengan catatan peserta didik perlu mendapat bimbingan dalam memahami pelajaran dan/ atau mendapatkan layanan konselingMekanisme KelulusanUntuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar kelulusan dapat berdasarkan penilaian sumatif, yang dapat dialkukan dalam bentuk tes tulis, tugas untuk performa, portofolio, atau pencapaian hasil belajar peserta didik untuk kelulusan dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan sumatif yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dilaksanakan pada semester ganjil dan/atau semester genap pada akhir jenjang dengan mempertimbangkan capaian kompetensi halnya kenaikan kelas, penentuan kelulusan ditentukan oleh satuan pendidikan. Penentuan kelulusan dari satuan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian peserta didik pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain pada1. kelas V dan kelas VI untuk sekolah dasar atau bentuk lain yang sederajat; dan2. setiap tingkatan kelas untuk sekolah menengah pertama atau bentuk lain yang sederajat dan sekolah menengah atas atau bentuk lain yang didik dinyatakan lulus dari satuan/program pendidikan setelah1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran; dan2. mengikuti penilaian sumatif yang diselenggarakan oleh satuan peserta didik ditetapkan oleh satuan/program pendidikan yang bersangkutan. Peserta didik yang dinyatakan lulus dari satuan/ program pendidikan diberikan ijazah. Ijazah diberikan pada akhir semester genap pada setiap akhir jenjang. Ketentuan mengenai ijazah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan Untuk PAUD tidak memiliki evaluasi untuk kelulusan, tetapi diharapkan anak yang telah menyelesaikan fase pondasi PAUD dapat mencapai profil peserta didik yang tergambar dalam Pendidik perlu memonitor dan mengkomunikasikan sepanjang proses pembelajaran dan bukan hanya di akhir semester/tahun, misalnya terhadap permasalahan kehadiran, seharusnya tidak diketahui di akhir tahun; namun sudah ada intervensi Kenaikan kelas/kelulusan bukan menjadi hukuman bagi siswa. Pendidik bekerja samadengan orangtua untuk mendeteksi permasalahan di sepanjang proses pembelajaran. Dengan demikian jika ditemui permasalahan, maka dapat segera diatasi dan diberikan Pendidik menggunakan umpan balik/refleksi untuk mengetahui dan menentukan strategi untuk membantu peserta didik yang mengalami ketertinggalan pada sepanjang proses Buku Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum MerdekaDemikian mekanisme kenaikan kelas dan kelulusan pada Kurikulum Merdeka, Semoga bermanfaat.
Bapak/Ibu Guru, kenaikan kelas tentu menjadi penanda bagi berakhirnya proses pembelajaran pada tahun ajaran tertentu. Dengan demikian, kenaikan kelas pun dilaksanakan pada setiap akhir tahun pelajaran. Peserta didik akan dinyatakan naik kelas apabila memenuhi kriteria kenaikan kelas yang telah ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan, dengan berpedoman pada peraturan yang ada. Lantas, apa saja yang menjadi kriteria kenaikan kelas? Simak selengkapnya pada ariktel berikut ini. Apa itu kriteria kenaikan kelas? Kriteria kenaikan kelas mengacu pada Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar mereka pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Apakah Kriteria Kenaikan Kelas di setiap jenjang pendidikan berbeda? Sesuai Permendikbud yang berlaku, kriteria kenaikan kelas untuk peserta didik ditetapkan melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang telah disepakati oleh seluruh warga di masing-masing satuan pendidikan. Misalnya, minimal kehadiran, ketaatan pada tata tertib, dan peraturan lainnya yang berlaku di satuan pendidikan tersebut. Dengan begitu, maka dapat dikatakan bahwa kriteria kenaikan kelas di setiap jenjang pendidikan tentu berbeda-beda. Apa yang harus dipertimbangkan dalam penentuan kriteria kenaikan kelas? Berdasarkan Permendikbud No. 21 Tahun 2022 Pasal 10 tentang Standar Penilaian Pendidikan, penentuan kenaikan kelas dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian peserta didik pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler, serta prestasi lain selama 1 satu tahun ajaran. Selain itu, pendidik dan satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan kriteria kenaikan kelas, dengan mempertimbangkan Laporan Kemajuan Belajar Laporan Pencapaian Projek Profil Pelajar Pancasila Portofolio peserta didik Ekstrakurikuler/prestasi/penghargaan peserta didik Tingkat kehadiran Adapun dalam proses penentuan peserta didik tidak naik kelas, perlu dilakukan musyawarah dan pertimbangan yang matang, sehingga opsi tidak naik kelas menjadi pilihan paling akhir apabila seluruh pertimbangan dan perlakuan telah dilaksanakan. Berikut beberapa isu yang bisa dijadikan contoh untuk sekolah dalam mempertimbangkan kenaikan kelas pada peserta didik yang tidak naik kelas. Contoh isuPertimbangan yang bisa diambil sekolahPeserta didik mempunyai tujuan pembelajaran yang belum tuntas ada tujuan-tujuan pembelajaran yang hasilnya belum memenuhi pencapaian minimum.Peserta didik dapat dipertimbangkan naik di kelas berikutnya dengan pendampingan tambahan untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran yang belum tercapai/tuntasPeserta didik mempunyai masalah ketidakhadiran/absen yang banyak. Banyaknya jumlah ketidakhadiran disepakati oleh satuan pendidikan Dapat dipertimbangkan dengan mengetahui alasan ketidakhadiran. Jika peserta didik tidak hadir karena kondisi keluarga siswa yang membantu orang tua bekerja karena alasan ekonomi atau masalah kesehatan peserta didik, maka dapat dipertimbangkan naik dengan catatan khusus. Jika alasan ketidakhadiran karena “malas”, meskipun kecil kemungkinan untuk naik kelas; peserta didik tetap dapat dipertimbangkan naik dengan catatan di rapor bagian sikap yang perlu ditindaklanjuti di kelas berikutnya. Misalnya, permasalahan ketidakhadiran harus diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun dengan cara konseling atau behavior treatment lain. Khusus permasalahan ketidakhadiran, wali kelas harus dapat mendeteksi permasalahan ini sedini mungkin, sehingga tidak terjadi penumpukan jumlah ketidakhadiran dari peserta didik di akhir psikologis, perkembangan, dan/atau didik bisa dipertimbangkan untuk naik kelas dengan catatan peserta didik perlu mendapat bimbingan dalam memahami pelajaran dan/ atau mendapatkan layanan konseling. Apa saja yang menjadi kriteria kenaikan kelas yang harus dipenuhi oleh siswa untuk dapat naik kelas berikutnya? Umumnya di setiap satuan pendidikan memiliki satu kesamaan kriteria kenaikan kelas. Persamaan tersebut adalah peserta didik dinyatakan tidak naik kelas apabila hasil belajar dari paling sedikit 3 tiga mata pelajaran pada kompetensi pengetahuan keterampilan di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum KKM dan/atau sikap belum baik. Berikut kriteria kenaikan kelas di satuan pendidikan MI, SD, SMP, SMA, dan SMK yang bisa Bapak/Ibu jadikan contoh. Kriteria Kenaikan Kelas MI Kriteria kenaikan kelas pada Madrasah Ibtidaiyah umumnya sebagai berikut. Peserta didik bisa dikatakan naik kelas apabila Menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Memperoleh nilai minimal sesuai KKM mata pelajaran, baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok, yaitu mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan Penjasorkes; Kehadiran di kelas mencapai minimal 90%. Kriteria Kenaikan Kelas SD Mengacu pada SE Mendikbud No. 1 Tahun 2021, kriteria kenaikan kelas untuk jenjang sekolah dasar sebagai berikut. Peserta didik dinyatakan naik kelas apabila Menyelesaikan seluruh program pembelajaran dalam dua semester pada tahun pelajaran yang diikuti, baik di masa pandemi СOVID-19. Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; Mencapai minimal KKM. Tidak terdapat lebih dari dua mata pelajaran yang tidak tuntas KKM. Mengikuti ujian akhir semester untuk kenaikan kelas yang bisa dilakukan dalam bentuk Portofolio berupa evaluasi berdasarkan hasil nilai rapor, nilai sikap/perilaku, dan prestasi yang telah diperoleh sebelumnya penghargaan, hasil perlombaan, dan sebagainya; Penugasan; Tes secara luring atau daring; dan/atau Kegiatan penilaian lain yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan. Memiliki presentase ketidakhadiran tanpa keterangan maksimal 15% dari jumlah hari efektif. Kriteria Kenaikan Kelas SMP Mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 53 Tahun 2015 tentang Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, adapun kriteria kenaikkan kelas pada jenjang SMP adalah sebagai berikut. Peserta didik dapat dikatakan naik kelas apabila Menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Kehadiran dalam kegiatan pembelajaran minimal 90% maksimal ketidakhadiran 18 hari tanpa keterangan dalam satu tahun. Berperilaku baik tidak melakukan pelanggaran berat terhadap tata tertib di sekolah. Peserta didik telah mencapai KKM pada semua Indikator, Kompetensi Dasar KD, dan Standar Kompetensi SK untuk semua mata pelajaran di semester I dan II dengan ketentuan berikut Untuk setiap mata pelajaran, jika pada semester I dan II tuntas, maka mata pelajaran tersebut dinyatakan tuntas. Untuk setiap mata pelajaran, jika di semester I dan II tidak tuntas, maka mata pelajaran/muatan lokal tersebut dinyatakan tidak tuntas. Untuk setiap mata pelajaran, jika salah satu dari semester I dan II terdapat mata pelajaran yang tidak tuntas, maka dilakukan penghitungan nilai rata-rata semester I dan II, serta penghitungan KKM rata-rata semester I dan II. Apabila nilai dari rata-rata mata pelajaran ≥ rata-rata KKM, maka mata pelajaran tersebut dinyatakan tuntas. Sebaliknya, jika nilai rata-rata mata pelajaran < rata-rata KKM, maka mata pelajaran tersebut dinyatakan tidak tuntas. Bila ada mata pelajaran yang tidak tuntas, tidak lebih dari 2 dua mata pelajaran. Tidak memiliki nilai yang kurang dari 70 tujuh puluh. Kriteria Kenaikan Kelas SMA Kriteria Kenaikan kelas pada jenjang SMA dapat dilihat dalam standar penilaian yang dikembangkan oleh BSNP dan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Peserta didik tingkat SMA dapat dinyatakan lulus, apabila Tidak memiliki lebih dari tiga mata pelajaran, pada kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang belum tuntas. Kehadiran mengikuti proses pembelajaran minimal 90%. Untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam IPA, semua mata pelajaran yang menjadi ciri khas jurusan Fisika, Kimia, dan Biologi mencapai KKM. Untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, semua mata pelajaran yang menjadi ciri khas jurusan ekonomi, geografi, dan sosiologi mencapai KKM. Berprilaku BAIK. Tidak melanggar tata tertib berat dan ketentuan hukum yang berlaku. Kriterian Kenaikan Kelas SMK Adapun kriteria kenaikan kelas pada jenjang SMK, peserta didik dinyatakan naik kelas apabila telah Menyelesaikan seluruh program pembelajaran dalam 2 semester pada tahun ajaran yang diikuti. Nilai sikap sekurang-kurangnya predikat BAIK, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh satuan pendidikan. Nilai ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan sekurang-kurangnya BAIK. Tidak memiliki lebih dari 2 mata pelajaran yang nilai kompetensi pengetahuan dan/atau kompetensi keterampilannya di bawah Ketuntasan Belajar KB atau Skor Ketuntasan Minimal SKM. Apabila ada mata pelajaran yang tidak mencapai KB pada semester gasal, maka nilai akhir diambil dari rerata semester ganjil dan genap. Tidak memiliki nilai mata pelajaran C2 dan C3 yang nilai kompetensi pengetahuan dan/atau kompetensi keterampilannya di bawah SKM. Peserta didik yang dinyatakan tidak naik kelas, maka harus mengulang seluruh mata pelajaran di kelas tersebut sesuai dengan Kompetensi Keahliannya. Kriteria Kenaikan Kelas Terbaru untuk Semua Jenjang Pendidikan dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 1 Tahun 2021 Pembelajaran Jarak Jauh telah menjadi salah satu kebijakan Kemendikbud dalam penyelenggaraan pendidikan pada masa pandemi Covid-19. Bentuk Pembelajaran Jarak Jauh tersebut adalah Belajar Dari Rumah. Belajar Dari Rumah merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19, khususnya di lingkungan satuan pendidikan. Dengan begitu, maka ada kriteria lain untuk penentuan kenaikan kelas. Terkait dengan hal tersebut, Kemendikbud menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 Covid-19. Adapun kriteria kenaikan kelas sesuai SE Mendikbud No. 1 Tahun 2021 tersebut, yaitu sebagai berikut. Ujian kenaikan kelas akhir semester yang dapat dilakukan dalam bentuk Portofolio, yaitu berupa evaluasi atas nilai rapor, nilai sikap dan perilaku, serta prestasi yang di peroleh sebelumnya bisa berupa penghargaan, hasil perlombaan, atau jenis prestasi lainnya. Penugasan, yaitu guru memberikan tugas kepada siswa, kemudian nilai-nilai dari penugasan-penugasan tersebut dikumpulkan sebagai bukti, bahwa siswa aktif menjalankan tugas sekolah. Luring atau daring, sesuai dengan model pembelajaran yang di terapkan masing-masing sekolah. Kegiatan penilaian lain yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan. Adapun pelaksanaan ujian kenaikan kelas dirancang untuk mendorong aktivitas belajar yang bermakna, dan tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh atau secara utuh. Bapak/Ibu Guru, demikian informasi mengenai kriteria kenaikan kelas terbaru yang sesuai dengan masing-masing jenjang pendidikan. Lebih lanjut,
kriteria kenaikan kelas dan kelulusan